Akan Jadi Apa Mereka?

Perjalanan tadi malam begitu menegangkan. Betapa tidak, sepanjang jalan Sholeh Iskandar begitu padat dan macet. Memang setiap malam sering macet. Tapi malam tadi tak hanya macet, tapi kemacetan yang “dihantui” kekhawatiran. Mengapa? Karena macet bukan karena banyaknya kendaraan, atau adanya pekerjaan jalan. Macet tadi malam karena ada dua kubu anak muda (siswa) yang sedang tawuran. Ratusan pelajar tingkat SMA/SMK terlihat sedang bersiap untuk saling serang.

Tidak sedikit pengendara yang berhenti karena khawatir kena imbasnya. Tapi ada juga yang nekat menerobos kerumunan yang mengular itu, termasuk saya. Berhubung pukul 20.00 saya harus mengisi sharing bersama trainer muda di daerah Bogor, tidak ada pilihan lain kecuali untuk terus melaju dalam kecemasan itu. Laa haula walaa quwwata illa billah, bismillah saja. Alhamdulillah bisa sampai di tempat acara dengan selamat.

Tawuran memang hari ini judah jadi santapan berita di negeri ini. Entah tawuran pelajar, mahasiswa hingga warga. Hampir tiap hari berita tentang tawuran menghiasi media berita yang ada. Pemicunya pun macam-macam. Ada hanya gara-gara perempuan, rebutan lahan, kalah pertandingan dan masih banyak lagi. Dan yang lebih ngeri lagi ketika tawuran sudah jadi hobi. Tak ada sebab pun tawuran bisa terjadi begitu saja. Sangat menghawatirkan.

Selama perjalanan yang terpikir malam tadi adalah bagaimana masa depan anak-anak tersebut yang mau tawuran? Akan jadi apa mereka? Bagaimana pola pendidikan sekolahnya? Seperti apa perhatian orang tua kepada mereka sehingga bisa seperti itu? Dan segudang pertanyaan sejenis lainnya. Intinya rasa khawatir, ragu bahkan cemas menjadi satu ketika melihat kondisi generasi remaja saat ini.

Bagi para orang tua, seharusnya ini jadi pembelajaran penting. Bagaimana perhatian orang tua terhadap buah hati. Terkadang sering juga pelajar terjebak dalam tawuran hanya gara-gara tak mendapatkan perhatian, cinta dan kasih sayang keluarga. Tawuran menjadi salah satu pelarian.

Bagi pengelola pendidikan, termasuk pemerintah, tentu harus dicari solusi sistemik untuk membina peserta didik sehingga menjadi pelajar-pelajar yang berkualitas. Karena saya yakin, mereka yang memiliki kualitas belajar yang bagus, prestasi yang cemerlang tidak ingin dan tidak tertarik dengan budaya tawuran.

Bagi aparat penegak hukum, ini pun jadi PR besar. Tindakan tegas dan kontinyu begitu diharapkan untuk menekan angka tawuran. Karena di beberapa kasus tawuran, permainan preman dan alumni sekolah begitu kental. Mereka menjadikan tawuran sebagai ajang untuk mengasah kemampuan dan keberanian. Ujung-ujungnya untuk lahan bisnis haram, narkoba dan minuman keras.

Tentu inilah PR kita semua. Akan jadi seperti apa mereka di masa yang akan datang? Terkhusus bagi para orang tua, jagalah putera-puteri kita. Berikanlah perhatian penuh kepada mereka. Perhatikan pula pegaulan mereka. Sesekali cek siapa saja teman dekatnya, di mana mereka bermain dan dengan siapa mereka bepergian. Pendidikan orang tua di rumah sangat menentukan bagaimana kondisi anak di luar. Bisa jadi, perilaku anak yang banyak menyimpang karena perlakuan orang tua di rumah yang tidak tepat.

Semoga mereka segera terjaga, segera tersadar atas apa yang mereka lakukan selama ini. Semoga semakin banyak para orang tua yang juga tersadar untuk segera menjaga, mengarahkan agar mereka cerah masa depannya. Orang tua yang menjadi teladan dan dicintai mereka. Sosok teman, sahabat juga teman curhat bagi mereka. Sehingga mereka menjadi pribadi yang mulia. Menjadi pribadi yang bisa membanggakan bagi orang tuanya. Karena bagaimanapun juga, mereka adalah tanggung jawab kita.

Salam Perubahan | Inspirator Perubahan, Asep Supriatna 
#BukanJalanBiasa #ChangeYourLife 
Follow >> @asepfakhri | Like >> Asep Supriatna | Visit >> AsepSupriatna.Com
Posting Komentar

Posting Komentar